Memperluas Jaringan Kerja Anti Perdagangan Manusia

Jakarta, 18 November 2017,

Di penghujung tahun 2017, Partha membangun komunikasi dengan jaringan kerja anti perdagangan orang di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengembangan wilayah ini dirasakan perlu untuk menjawab kebutuhan tentang pelayan pembangunan rumah aman di berbagai wilayah di Indonesia sesuai cita-cita pendirian Partha. Sejalan juga dengan isu yang berkembang selama ini bahwa NTT dan NTB sangat pelik probem perdagangan manusia. Banyak korban berjatuhan tanpa ada keadilan, sementara tidak ada jaringan dan atau lembaga yang konsern untuk pemulihan. Dalam konteks itulah Parinama Astha hadir untuk menjawab persoalan yang telah menjadi isu nasional.

Dalam kesempatan pada tanggal 13-16 November, Koordinator Nasional Parinama Astha yakni Irhash Ahmady, melakukan kunjungan daerah untuk bertatap muka dengan jaringan yang ada dan sudah bekerja lama di isu perdagangan manusia. Diantaranya adalah LBH APIK- NTB dan Lembaga jaringan dari Wadah Titian harapan dan Aksira . Diskusi bersama LBH APIK-NTB menjelaskan bahwa mereka menangani banyak kasus perdagangan manusia yang melibatkan aparat penegak hukum. “ Kami pernah menangani kasus perdagangan orang dimana dua perempuan ditipu oleh seseorang untuk dipekerjakan di rumah makan, tau-taunya dipekerjakan di diskotik di Sengigi”, ujar iman staf advokasi LBH APIK NTB.

 

 

Cerita berbeda disampaikan oleh Ibu Nurul yang juga merupakan aktivis Aksira NTB, beliau memaparkan persoalan diskriminasi di Lombok ini cukup tinggi. Perempuan mengalami kekerasan sementara jika bekerja menjadi BMI tidak mendapatkan jaminan keselamatan. Saat ini, tercatat sekitar 56.672 masyarakat NTB yang bekerja di luar negeri, terdiri dari laki-laki sebanyak 45.256 orang dan perempuan sekitar 11.416 orang, meraka berasal dari kota Mataram sebanyak 140 orang, Kota Bima 90 orang, Kabupaten Lombok Barat 4.602 orang, Lombok Timur 24.281 orang, Lombok Utara 887 orang, serta Bima 1.709 orang, dan Kabupaten Lombok Timur menjadi pengirim terbesar di NTB bahkan tertinggi jika dibandingkan kota/kabupaten se-indonesia. “Isu kekerasan perempuan dan perdagangan manusia cukup tinggi di Lombok, bukan hanya pengirim akan tetapi juga penerima, apalagi Mandalika sudah ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional untuk pariwisata. Otomatis akan berkembang pusat-pusat hiburan malam, ini yang kami takutkan”, Nurul berkilah. Dalam percakapan tersebut menyambut baik kehadiran Partha di NTB dan dapat diajak bekerjasama untuk kepentingan perlawanan terhadap perdagangan manusia.

 

 

Selain berkunjung ke jaringan masyarakat, Partha juga bertatap muka dengan pihak pemerintah kabupaten Lombok Tengah sebagai pintu masuk warga luar ke wilayah lombok. “ Kami menyambut baik kehadiran partha di Bumi Seribu Masjid ini, berharap akan bekerjasama untuk mengurangi tindak perdagangan manusia di NTB, dan Lombok tengah sebagai pintu gerbang berkomitmen penuh mendukung agenda Partha tersebut” sambut wakil bupati lombok tengah,-

Recommended Posts