Partha kampanye di Kampus UI

Jakarta, 07 Maret 2018

Bertempat di auditorioum Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Parinama Astha melakukan kampanye publik tentang perdagangan manusia. Bekerjasama dengan BEM FISIP dan Organisasi Mahasiwa Ekstra Kampus Front Mahasiswa Nasional mengadakan Dialog Publik bertema “Mengetahui Mencegah dan Memahami Perdagangan manusia di sekitar kita”. Kegiatan yang dihadiri lebih dari 60 mahasiswa dari berbagai fakultas. Turut hadir juga Ketua BEM UI yang pada waktu lalu memberikan kartu kuning kepada Presiden Jokowi ketika memberikan kuliah umum di UI.

 

Kegiatan yang dimoderatori oleh Priscillia Yovia yang juga mahasiswa fakultas hukum sekaligus ketua bidang perempuan Front Mahasiswa Nasional sangat luags membawakan acara yang diisi oleh pembicara dari IOM Indonesia dan Ketua Yayasan Parinama Astha dan juga mantan buruh migran. Kegiatan dialog berjalan selama lebih dari tiga jam ini sangat memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa sangat sedikit sekali mahasiswa yang konsern terhadap isu perdagangan manusia. “Kegiatan seperti ini perlu diikuti secara penuh oleh Mahasiswa, apalagi keterlibatan aktif dalam riset-riset perdagangan manusia”, sambutan Rahayu Saraswati yang biasa disapa Ibu Sara. “ Sangat sedikit data dan studi, jika ditanya berapa jumlah Tindak Pidana Perdagangan Orang di Indonesia sangat berbeda satu instansi dengan instansi lainnya. Sementara ini fenomena gunung es”, kilah Ibu Sara yang juga Anggota DPR Komisi VIII.

 

Emmy Nurmila dari International Organisation Migration atau biasa dikenal dengan IOM menekankan pentingnya mengetahui ciri dan bentuk perdagangan manusia agar setiap orang menjadi agen bagi upaya pemberantasan perdagangan manusia. “Sebenarnya disekitar kita sangat kuat jaringannya, dan kita harus bisa mendeteksi sedini mungkin apakah ada calon-calon korban perdagangan manusia. Dengan berjejaring kita bisa mencegah perdagangan manusia”, sambung Numila.

 

Mantan Buruh Migran Indonesia, Karsiwen memberikan testimoni tentang pengalaman menjadi buruh migran di Hongkok. “Saya terpaksa harus bekerja keluar negeri karena tidak ada pekerjaan di Indonesia” kata Karsiwen yang biasa di panggil Iweng. Untuk menjadi BMI harus mendaftar di agen-agen TKI yang memberangkatkan. Tidak sedikit yang menipu dan menjadikan mereka menjadi Pekerja Seks Komersial di Hongkok dan Macau maupun Singapura. “Melalui agen saya berangkat dengan modal nekat karena mengikuti teman-teman yang telah dulu bekerja, untuk saya mendapatkan Agen yang baik jadi saya hanya bekerja sebagai house keeping. Sementara banyak temen saya yang menjadi korban TPPO”, sambung Karsiwen yang juga Ketua Kabar Bumi ( Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia).

Upaya kampanye publik ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Parinama Astha di berbagai kampus di Indonesia dengan harapan upaya perlawanan terhadap TPPO bisa berkolaborasi bersama generasi muda dan menjadi bagian relawan anti perdagangan manusia.

 

Recommended Posts